Refleksi Khotbah FIRES

Kamis, 2 Mei 2019

Pengkhotbah: Pdt. Edward Oei

 

Kita sering terbuai oleh pemikiran bahwa kita memiliki kontrol penuh atas hidup kita. Cara pikir dunia telah membuat kita percaya bahwa kita bisa mengatur dan menentukan keberhasilan kita. Namun, kenyataannya kita bukanlah pengatur dan penentu keberhasilan karena kita hanyalah ciptaan Allah. Lantas, bagaimanakah sebenarnya keberhasilan itu?

Kita tahu bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah dengan keunikan masing-masing, termasuk keunikan tujuan hidup yang ditentukan oleh Allah. Kendati demikian, kita diciptakan untuk hidup berkelompok dan kita harus menerapkan keunikan masing-masing demi keselarasan kelompok tersebut. Ada yang diciptakan menjaditelinga’, mata‘, atau ‘kaki’, dan kita tidak perlu mengusik keunikan/peran yang bukan milik kita.

Keberhasilan adalah ketika kita menyadari, memahami, dan menjalankan keunikan kita di dalam kelompok yang ada. Keberhasilan kita adalah ketika kita dapat mengejar kebenaran yang berkaitan dengan keunikan/peran kita. Jika peran kita adalah sebagai mata’, kita harus terus melatih diri untuk memiliki pengamatan yang semakin tajam dan detil. Jika peran kita adalah sebagai tangan’, kita harus terus mengembangkan diri untuk memiliki keterampilan motorik yang semakin cekatan. ‘Mata’ tidak perlu bersusah payah untuk memiliki keterampilan motorik, dan sebaliknya. Demikian pula di dalam hal kita sebagai mahasiswa Kristen. Kita harus memahami terlebih dahulu keunikan/peran yang Allah tetapkan untuk kita. Sehingga, kita tidak menjadi orang yang serabutan memilih jurusan/fakultas yang tidak akan membuat kita dapat mengembangkan peran kita dengan maksimal.

Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa mungkin selama inikita memiliki definisiberhasil’ yang salah. Kita pikir asalkan bisalulus dari fakultas apa pun dengan IPK cum laude, itu sudah berarti kita menjadi orang yang berhasil. Padahal, jika ternyata bukan fakultas tersebut yang Allah ingin untuk kita tekuni, kita sesungguhnya sangat jauh dari yang namanya berhasil. Selama kita masih hidup, masih ada kesempatan untuk kita menyadari dan menemukan keunikan/peran yang Allah tetapkan untuk kita. Jika hari ini kita mulai menggumulkan dengan jujur dan serius di hadapan Allah tentang keunikan/peran kita yang Allah sudah tetapkan, kita sudah satu langkah menuju keberhasilan itu. Selamat bergumul dan semoga berhasil!

Refleksi oleh: Eunice Girsang