Refleksi Khotbah FIRES
Minggu, 14 Januari 2024
Pengkhotbah: Pdt. Edward Oei
Ayat Alkitab: Keluaran 14:15-31

Bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun biasanya bersukacita ketika mendapatkan sesuatu yang baru dan lebih baik: baju baru yang bermerek, gawai tipe terbaru, jabatan baru dengan posisi yang lebih tinggi, dan lainnya. Ini karena kita merasa bahwa yang baru pasti lebih baik daripada yang lama dan membuat nilai diri kita menjadi bertambah saat memiliki barang/hal baru tersebut. Kita sudah terbiasa menjadikan hal-hal duniawi dan materi sebagai tolok ukur dari sukacita kita.

Demikian pula dengan bangsa Israel. Ketika Musa membawa mereka keluar dari Mesir dan masuk ke padang gurun, mereka tidak melihat ada materi/hal baru di sana yang lebih baik dariyang ada di Mesir, yang bisa memberikan nilai lebih kepada hidup mereka, dan membuat mereka bersukacita. Karena itulah mereka terus merindukan Mesir dan segala harta, makanan, dan kenyamanan yang mereka nikmati di sana. Bangsa Israel sudah gagal melihat pimpinan Tuhan dan pembebasan mereka dari perbudakan sebagai sesuatu yang baru, lebih baik, dan seharusnya membuat mereka bersukacita.

Sama seperti bangsa Israel, kita pun sering kali gagal melihat dan menganggap pimpinan serta penyertaan Tuhan dalam hidup kita sebagai sesuatu yang baru setiap paginya, sesuatu yang baik, dan yang dapat membuat kita bersukacita. Kita mungkin saja mengalami hal yang buruk hari ini, tetapi seburuk-buruknya apa pun yang terjadi, Tuhan tetap ada beserta dan menopang kita, dan terutama Ia tetap adalah Tuhan yang mengasihi kita. Kita dapat kehilangan segala hal materi kita, tetapi kita tetap dapat bersukacita di atas fakta bahwa Tuhan senantiasa memelihara dan mengasihi kita.

Memiliki pola pikir seperti ini memanglah tidak mudah. Kita perlu iman yang kuat di dalam Tuhan, hati yang tulus mengasihi Tuhan, dan diri yang tunduk kepada pimpinan Tuhan. Mari kita mohon kepada Tuhan untuk memberikan kepada kita kacamata yang baru dalam melihat hidup ini, bukan lagi berfokus pada hal-hal duniawi dan materi, melainkan kepada anugerah dan pimpinan Tuhan yang selalubaru tiap pagi, sehingga kita bisa bersukacita dan memuliakan Tuhan dalam hidup kita.

Refleksi oleh: Phinsen