Refleksi Khotbah FIRES
Minggu, 5 Mei 2024
Pengkhotbah: Pdt. Edward Oei
Allah adalah Pribadi yang absolut dan manusia adalah pribadi yang relatif. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, relatif berarti tidak mutlak. Definisi ini membuat kita berpikir bahwa diri manusia bisa diatur sesuka hati kita. Laki-laki ingin jadi perempuan? Boleh. Perempuan mau pacaran sama perempuan? Boleh. Manusia tidak mutlak, tidak perlu dikunci dengan satu aturan tertentu.
Pengertian relatif seperti ini tidaklah benar. Di dalam theologi, relatif artinya keberadaan manusia bergantung pada relasinya dengan Allah. Relasi manusia dengan Allah adalah relasi antara ciptaan dan Pencipta. Kita menjadi diri kita sebagaimana adanya sesuai dengan yang Allah ciptakan. Allah ciptakan manusia sebagai laki-laki atau perempuan, dan Allah merancang persatuan manusia hanya boleh terjadi di antara kedua jenis kelamin ini.
Namun, manusia berdosa tidak mau tunduk dengan rancangan ini. Manusia berdosa membuat distingsi antara sex dan gender. Menurutnya, sex adalah jenis kelamin yang ditentukan secara biologis (misalnya kromosom XX adalah perempuan dan XY adalah laki-laki), sedangkan gender adalah cara seseorang mengekspresikan dirinya secara sosial. Gender tidak harus berhubungan dengan jenis kelamin biologis. Misalnya, seseorang dengan kromosom XY bisa saja menganggap dirinya perempuan. Maka, dia merasa sah-sah saja hidup sebagai seorang perempuan dan merasa cocok memacari seseorang dengan kromosom XY juga.
Masalah berikutnya terjadi ketika dunia ini juga mendikte hal-hal yang disebut maskulin dan feminin. Ada pekerjaan-pekerjaan yang dianggap maskulin (seperti mekanik atau pilot) dan feminin (seperti penata rambut atau pengasuh anak). Ketika ada perempuan yang ingin menjadi mekanik, dia merasa dirinya maskulin, turut mengubah fisiknya menjadi lebih maskulin, dan akhirnya merasa tidak cocok menjadi istri atau ibu. Pertama, Allah tidak tentu mengkotak-kotakan pekerjaan seperti yang dunia ini lakukan. Kedua, melakukan suatu pekerjaan tertentu bukan berarti harus menolak dirinya sebagaimana Allah ciptakan. Seseorang perempuan bisa jadi memang dipanggil menjadi mekanik, tetapi ia tidak boleh menolak perannya sebagai perempuan. Ia tidak harus mengubah penampilannya menjadi seperti laki-laki, apalagi meninggalkan perannya sebagai perempuan dalam hal lainnya.
Allah sudah menyatakan kepada kita peran dan panggilan laki-laki atau perempuan yang bisa kita baca dan pelajari dari Alkitab. Kita harus kembali kepada rancangan orisinil Allah dan bukan mengikuti rancangan dunia berdosa yang sudah merusak pikiran dan perasaan kita tentang sex dan gender. Mari kita hidup sesuai dengan peranan sex dan gender yang Tuhan sudah tetapkan untuk kita. Ketika kitamengembalikan makna sex dan gender sesuai dengan apa yang Tuhan sudah tetapkan, baru kita bisa menjadi manusia, baik laki-laki atau perempuan, yang sejati.
Refleksi oleh: Aaron
