Refleksi Khotbah FIRES (Jumat, 20 Maret 2019)
Pengkhotbah: dr. Diana Samara

Kita mungkin merasa sudah banyak melakukan pelayanan. Kita juga menganggap sudah banyak yang dikorbankan untuk pelayanan: waktu, tenaga, uang, studi, pekerjaan, keluarga, hobi, dll. Karena itu, kita merasa Tuhan berhutang berkat kepada kita atas segala yang sudah kita lakukan. Jika Tuhan tidak memberikan berkat-Nya, sama saja dengan Tuhan hanya memanfaatkan kita, dan kita hanyalah victim.

Mari kita melihat surat Paulus kepada jemaat Filipi. Paulus mengajarkan kepada jemaat Filipi bahwa mereka harus menjadi korban hidup yang dipersembahkan kepada Allah, yaitu dengan rela menderita dan tetap setia kepada Kristus di tengah-tengah lingkungan yang menyembah berhala. Dalam Filipi 2:17, Paulus mengatakan bahwa ia sendiri rela mencurahkan darahnya di atas korban jemaat Filipi sebagai pelengkap dalam persembahan kepada Allah. Perlu kita ingat, bahwa saat Paulus menuliskan surat ini, ia sedang dipenjara oleh karena imannya. Paulus tidak merasa sebagai victim, ia tidak merasa bahwa Tuhan berhutang berkat kepadanya, malah ia sangat bersukacita karena mengerti bahwa penderitaan dalam mengikut Tuhan pun adalah suatu anugerah besar yang dapat ia terima.

Apa yang menjadi dasar pengertian dan sukacita Paulus ini? Karena ia melihat kepada pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Sang Anak Allah rela turun ke dunia, menjadi manusia, menyerahkan nyawa-Nya mati di atas kayu salib, menjadi korban yang sempurna untuk menebus dosa umat manusia yang melawan-Nya. Ini merupakan pengorbanan yang sangat selfless. Tuhan Yesus Kristus hanya mau mengerjakan kehendak Bapa-Nya di surga, karena Ia mengasihi Bapa dan mengasihi umat manusia. Tidak ada perasaan victim di dalam diri Tuhan Yesus dan tidak ada indikasi bahwa Allah menjadi berhutang kepada Tuhan Yesus.

Pengorbanan yang bisa kita lakukan selama melayani Tuhan di dunia ini, tidak mungkin pernah lebih besar dari pengorbanan Tuhan Yesus Kristus selama hidup-Nya di dunia. Jadi, apa benar pantas kita merasa menjadi victim dan Tuhan menjadi berhutang kepada kita karena pelayanan kita? Jika memang kita tidak rela melayani Tuhan, gampang saja, berhenti melayani. Allah bukan Allah yang inkompeten dalam melaksanakan kehendak-Nya di dunia ini sehingga membutuhkan pertolongan dari kita. Jika kita tidak mau melayani Dia, tidak perlu mengira bahwa kehendak Allah akan gagal. Karena Allah sanggup membangkitkan batu-batu untuk melayani Dia!

Jika kita masih diberikan kesempatan melayani (bentuk apa pun itu), sesungguhnya itu adalah anugerah besar yang Tuhan berikan kepada kita. Maka, sudah sewajarnya kita menerima anugerah ini dengan penuh rasa syukur dan sukacita. Melalui teladan yang sudah diberikan oleh Tuhan Yesus, sudah seharusnya kita melayani dengan penuh perasaan rela berkorban. Bukan merasa menjadi victim, tetapi dengan rela menjadi korban hidup.

Refleksi oleh: Samuel Christopher Ng

Lokasi

Jl. Taman Daan Mogot I No.2,
Tj. Duren Utara, Grogol Petamburan, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta 11470

Ayo berbincang

info@fires.id
+62878-8080-4567

Privacy Preference Center