Refleksi Khotbah FIRES (Jumat, 5 April 2019)

Pengkhotbah: Pdt. Edward Oei

 

“Tuhan, ampuni saya karena hari ini saya berbuat dosa X. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Demikian isi doa kita pada hari Senin. Keesokkan harinya kita kembali berdoa, “Tuhan, ampuni saya karena hari ini saya berbuat dosa X (lagi). Saya berjanji hari ini akan berusaha lebih keras untuk tidak mengulanginya.” Bisakah kita menebak doa apa yang kita ucapkan pada hari Rabu? Ya, masih doa yang sama! Dan kita hampir putus asa ketika hari terus berganti, bertemu dengan hari Senin lagi, dan isi doa kita masih persis seperti minggu lalu. 

 

Di tengah-tengah keterpurukkan kita, mungkin kita menyerah: “Ah, ya sudahlah. Saya kan memang orang berdosa. Sudah sewajarnya jika saya terus-menerus berbuat dosa. Toh, Tuhan adalah kasih. Dia pasti mau mengampuni dosa-dosa saya. Lagipula Roma 5:20 mencatat: ‘… dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.’”

Tetapi, kitab Roma tidak berhenti di pasal 5! Ada lanjutannya di dalam Roma 6: 1-2 yang mengatakan: “… Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?”

Anak Allah yang tunggal, yaitu Tuhan Yesus Kristus, rela berinkarnasi menjadi manusia, dan mati di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Ia bangkit pula dari antara orang mati, menunjukkan kemenangan-Nya atas kuasa maut. Barangsiapa percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, berarti turut serta dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Maka, setiap orang percaya tidak lagi berada di bawah kuasa dosa, kita sekarang diberikan kuasa justru untuk melawan dosa. 

Tetapi, bagaimana dengan fakta keberadaan kita yang berulang kali gagal melawan dosa? Hal ini terjadi karena kita masih memberikan diri untuk dikuasai oleh dosa. Kita kurang dalam menyelami lautan kebenaran firman Tuhan. Ketika kita dipenuhi dan “disibukkan” dengan firman Tuhan dan menjalin relasi dengan-Nya, kita akan semakin “tidak punya waktu” untuk berdosa. Bukan berarti kita akan mencapai kesucian yang sempurna di tengah-tengah dunia ini, karena hal itu baru akan kita dapatkan di surga kelak. Selama kita masih hidup di dunia yang berdosa ini, kita pasti harus terus berjuang melawan dosa. Tetapi, kita harus ingat bahwa kita sekarang memiliki Juruselamat yang kepada-Nya kita dapat berserah untuk membebaskan kita dari dosa-dosa yang masih menjerat kita. 

Mari kita evaluasi diri kita masing-masing. Manakah yang lebih sering kita lakukan: berbuat dosa atau merenungkan firman Tuhan? Siapa yang paling kita cintai: dosa atau Tuhan? Kita tidak bisa menyembah dua tuan. Jika kita sudah “mengundurkan diri” dari tuan dosa, mari kita setia kepada Tuan yang sejati, Tuhan kita, sehingga hal yang kita ulangi setiap hari bukan lagi melakukan dosa, tetapi menyenangkan Dia dan melakukan kehendak-Nya. 

 

Refleksi oleh: Widya Sheena

Lokasi

Jl. Taman Daan Mogot I No.2,
Tj. Duren Utara, Grogol Petamburan, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta 11470

Ayo berbincang

info@fires.id
+62878-8080-4567

Privacy Preference Center